FAKTABANDUNG.ID – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kabupaten Bandung mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta area permukiman.
Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung cukup panjang, yang secara otomatis melonjakkan risiko terjadinya peristiwa kebakaran secara signifikan.
Kepala Disdamkar Kabupaten Bandung, Iman Irianto, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah gencar melakukan berbagai upaya preventif secara berjenjang hingga ke tingkat pemerintahan paling bawah.
“Kami melakukan imbauan ke rekan-rekan yang ada di pemerintahan tingkat bawah melalui Pak Camat dan Pak Kades. Kami juga bergerak melalui Relawan Pemadam Kebakaran atau Redcar,” ujar Iman Irianto saat dihubungi, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Kebakaran Maut di Semarang: Lima Orang Sekeluarga Tewas, Termasuk Ibu Hamil dan Balita
Kelalaian Manusia Jadi Pemicu Utama
Iman menegaskan, mayoritas peristiwa kebakaran lahan yang terjadi sejauh ini bukan karena faktor alam murni, melainkan dipicu oleh kelalaian manusia (human error). Ia memetakan tiga penyebab utama yang sering ditemukan petugas di lapangan:
Pembuangan puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan.
Aktivitas membakar sampah rumah tangga yang merembet akibat tiupan angin kencang.
Tindakan disengaja membakar semak belukar untuk membuka lahan.
“Dari pengalaman kami selaku petugas, sumber api itu patut diduga dari perbuatan manusia… orang yang bakar sampah di lingkungannya, mereka merasa itu area mereka sendiri, tetapi tahu-tahu angin datang dan menyambar daun serta batang kering,” jelasnya.
Tantangan Medan Sulit dan Menjadi “Single Fighter”
Saat api sudah menyerang area perbukitan—seperti yang sempat melanda kawasan Gunung Singa—petugas harus berkejaran dengan waktu karena karakteristik vegetasi kering seperti alang-alang membuat api merembet sangat cepat.
Doktrin utama petugas adalah melokalisasi api sesegera mungkin agar tidak merembet ke puncak bukit.
“Kami lokalisasi dulu kondisinya melalui percepatan pemadaman. Biasanya kami sekat, kami tarik semacam parit supaya api enggak melebar ke atas posisinya. Kalau sudah merembet ke atas, jangkauan pemadaman jadi sulit, mobil (armada) saja susah masuk,” kata Iman.
Jika api terlanjur naik ke perbukitan, petugas terpaksa menggotong pompa portabel secara manual ke atas bukit dengan kendala tambahan: sulitnya mencari sumber air di lokasi terpencil.
Tak hanya medan yang berat, minimnya bantuan tenaga di lokasi yang jauh dari pemukiman juga memaksa petugas bekerja ekstra keras.
“Kendala kami kalau kebakaran seperti itu susah bantuan orang. Jarang ada (yang bantu), jadi biasanya kita single fighter. Kalau di tempat lain kami dibantu Linmas, Pol PP, atau Polsek. Tapi, kalau di lokasi yang jauh, kami sering berjuang sendiri,” ucapnya pilu.
Baca Juga: PT Timah Salurkan Ratusan Hewan Kurban di Empat Provinsi Jelang Idul Adha 2025














