FAKTABANDUNG.ID – Bulan Ramadan seharusnya menjadi momen penuh berkah, namun tahun 2026 ini masyarakat harus menghadapi tantangan ekonomi yang cukup pelik.
Kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi di tengah meningkatnya konsumsi rumah tangga memicu kekhawatiran luas.
Kenaikan harga energi ini bukan sekadar angka di SPBU, melainkan pemicu utama melonjaknya biaya logistik nasional, dilansir pada 11 Maret 2026.
Sektor distribusi pangan adalah lini yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga bahan bakar. Ketika biaya transportasi membengkak, para penyedia jasa logistik hampir pasti akan meneruskan beban tersebut ke harga jual produk di tingkat konsumen.
Anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, mengingatkan bahwa jika pemerintah tidak segera melakukan mitigasi, rantai pasok pangan bisa terganggu dan menyebabkan harga kebutuhan pokok menjadi tidak terjangkau bagi masyarakat kecil.
Kementerian ESDM didesak untuk mengevaluasi dampak kebijakan ini secara mendalam agar tidak menjadi bensin bagi api inflasi.
Koordinasi lintas kementerian sangat diperlukan untuk memberikan insentif khusus bagi armada pengangkut pangan.
Negara harus hadir memastikan bahwa di tengah meningkatnya permintaan menjelang Idulfitri, stabilitas harga tetap terjaga melalui ketersediaan pasokan energi yang aman di jalur-jalur distribusi utama.















