Daerah  

Karawang Temukan 188 Kasus Baru HIV di Awal 2026, Kelompok LSL dan Remaja Jadi Sorotan

/dok. Kemenkes

FAKTABANDUNG.ID – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, melaporkan temuan 188 kasus baru HIV sepanjang triwulan pertama tahun 2026 (Januari–Maret).

Berdasarkan data yang dirilis, angka penularan ini masih didominasi oleh kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) serta mulai merambah ke usia remaja.

Staf Program KPA Karawang, Yana Aryana, merinci bahwa penderita kasus baru ini mayoritas berada pada usia produktif, yakni rentang 20 hingga 49 tahun, dengan jumlah mencapai 119 orang.

“Berdasarkan kelompok risiko, angka tertinggi berasal dari kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) yang mencapai 76 kasus. Penularan ini sebagian besar diindikasikan akibat perilaku seks bebas, baik dalam hubungan sesama jenis maupun heteroseksual,” kata Yana di Sekretariat KPA Karawang, Senin (27/4/2026).

Tren Usia Remaja dan Fenomena Gunung Es

Selain kelompok usia produktif, KPA Karawang juga menyoroti peningkatan kasus di kalangan remaja (15-19 tahun).

Jika pada tahun 2025 terdapat 38 kasus, pada tiga bulan pertama 2026 ini sudah ditemukan 10 kasus baru dari kelompok pelajar dan mahasiswa.

Secara kumulatif, sejak tahun 2000 hingga Maret 2026, total warga Karawang yang terinfeksi HIV tercatat sebanyak 4.733 orang.

Meski tren tahunan sempat menurun dari 886 kasus (2024) ke 757 kasus (2025), angka di awal tahun ini memicu alarm bagi pengawasan yang lebih ketat.

Menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan Karawang di peringkat ketiga kasus HIV tertinggi di Jawa Barat, Yana menilai hal tersebut dari sisi positif terkait upaya penemuan kasus di lapangan.

“Itu malah bagus. Fenomena gunung es mulai terbongkar,” tegasnya.

Menurutnya, tingginya angka tersebut merupakan bukti keberhasilan tim dalam melakukan penjangkauan terhadap populasi tersembunyi.

Kendala Kesadaran dan Layanan Kesehatan Gratis

Yana mengungkapkan tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya inisiatif masyarakat untuk melakukan deteksi dini.

Stigma seringkali membuat kelompok berisiko enggan memeriksakan diri secara sukarela.

“Biasanya, mereka baru mencari pengobatan kalau sudah jatuh sakit,” ujar Yana.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah melalui KPA terus menggencarkan edukasi ke kalangan muda serta melakukan pelacakan (tracing) melalui jaringan pertemanan pasien positif.

Bagi masyarakat yang ingin melakukan deteksi dini, layanan tes HIV kini tersedia secara gratis di 50 Puskesmas dan hampir seluruh rumah sakit di Karawang.

Sementara untuk layanan Antiretroviral Therapy (ART) atau pengobatan, warga dapat mengaksesnya di RSUD Karawang, RSUD Jatisari, RS Citra Sari Husada, serta 45 Puskesmas Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *