FAKTABANDUNG.ID – Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bandung.
Langkah ini dinilai sebagai solusi paling cepat dan logis untuk mengatasi krisis timbulan sampah yang kian mendesak.
Dalam peninjauannya di Kota Bandung, Sabtu (28/2), Menteri Hanif mengungkapkan bahwa volume sampah di Kota Bandung telah mencapai angka dramatis, yakni sekitar 1.500 ton per hari.
Tanpa pengelolaan yang tepat, mayoritas sampah tersebut hanya akan menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Baca Juga: Mendiktisaintek Brian Yuliarto Apresiasi Sistem Pengolahan Sampah Terintegrasi UGM
Menteri Hanif menekankan bahwa meskipun pembangunan budaya pilah sampah sangat penting, proses tersebut memakan waktu bertahun-tahun. Sementara itu, tumpukan sampah membutuhkan penanganan segera.
“Saya mendukung penuh PSEL untuk khusus Kota Bandung, karena sudah dramatis dan memang itu jalan paling logis, yang paling cepat untuk menangani sampah di tengah-tengah upaya kita membangun budaya,” tegas Hanif.
Ia juga menambahkan bahwa rencana ini telah dikonsultasikan dengan Menko Pangan dan mendapatkan lampu hijau. “Saya hari ini hanya survei saja, nanti tim teknis akan mendalami bagaimana kecocokan itu,” tuturnya.
Dukungan terhadap PSEL di dalam kota juga didasari oleh pertimbangan logistik. Jarak tempuh menuju TPPAS Legok Nangka (yang ditargetkan beroperasi 2028) dinilai akan membebani proses pengangkutan sampah. Meski demikian, Hanif mengingatkan pentingnya tata kelola keuangan yang transparan mengingat besarnya nilai investasi proyek ini.
“Ini menggunakan dana yang besar kita perlu sangat hati-hati, karena kemudian hari kita harus bertanggung jawab terhadap dana yang kita keluarkan untuk waste to energy,” kata Hanif.
Kementerian Lingkungan Hidup berperan dalam tahap pra-pembangunan, termasuk memastikan kecukupan timbulan sampah sebagai syarat teknis PSEL. Selanjutnya, proses tender akan dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Sebelumnya, Direktur Investasi PT Danantara Investment Management, Fadli Rahman, mengungkapkan bahwa sebanyak 24 perusahaan internasional dari China, Prancis, dan Jepang telah mengikuti seleksi tender untuk proyek serupa di empat kota lain (Denpasar, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta).
Baca Juga: Zulhas di INZS 2025: Percepat Proyek Pengolahan Sampah Demi Ekonomi Hijau dan Keadilan Iklim













