FAKTABANDUNG.ID – Kematian seorang dokter internsip berinisial AMW (25) di RSUD Pagelaran, Cianjur, memicu peringatan serius terkait ledakan kasus campak di Jawa Barat.
Dokter muda tersebut dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi campak, sebuah penyakit yang selama ini sering kali dianggap remeh oleh masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengonfirmasi tren kenaikan kasus yang sangat signifikan. Data menunjukkan pada tahun 2025 tercatat 1.785 kasus, melonjak tajam dari 271 kasus di tahun 2024.
Sementara itu, pada periode Januari hingga Februari 2026 saja, sudah ditemukan 252 kasus baru.
Respons Taktis: Imunisasi Massal di Tingkat Kecamatan
Menyikapi lonjakan ini, Dinkes Jabar menginstruksikan seluruh jajaran di kabupaten/kota untuk melakukan pemetaan cepat dan tindakan preventif langsung di lapangan.
“Kemarin kita sudah rapat dengan semua Kepala Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa harus cepat dilakukan pemetaan. Jadi ketika kasusnya meningkat itu harus langsung dilakukan namanya catch up campak, untuk orang-orang yang belum diimunisasi campak,” ujar Vini, Rabu (1/4/2026).
Vini menjelaskan bahwa di wilayah dengan kepadatan kasus tinggi seperti Garut dan Tasikmalaya, pemerintah menerapkan prosedur Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.
“Memang ada peningkatan kasus. Jadi, sekarang setiap kecamatan yang ada lonjakan kasus campaknya itu wajib dilakukan imunisasi per kecamatannya, supaya tidak usah nunggu,” tegasnya.
Bahaya Virus yang “Buas” di Dalam Tubuh
Vini memberikan catatan khusus mengenai persepsi keliru masyarakat yang menganggap campak hanya sekadar penyakit kulit ringan.
Ia menekankan bahwa virus campak bisa menjadi sangat agresif, terutama saat kondisi imun seseorang sedang menurun.
“Kalau orang sakit campak itu kan seolah-olah ringan ya. Ah hanya campak, hanya gatal padahal virusnya tidak seperti itu, virusnya sangat buas di dalam tubuhnya, terus berjalan,” jelas Vini.
Bahkan, kasus dokter AMW menjadi pelajaran pahit. Meski korban diketahui sudah pernah menjalani imunisasi, kondisi fisik yang kelelahan dan tetap bekerja saat sakit membuat virus berkembang fatal.
“(Sudah) Imunisasi hanya dia lagi sakit, padahal dokter penanggung jawabnya sudah bilang istirahat saja. Nah, itu tadi orang terlalu menyepelekan ah cuma campak gitu kan,” tambahnya.
Imbauan Imunisasi Mandiri dan Perlindungan Anak
Saat ini, masih terdapat sekitar 102.000 anak di Jawa Barat yang belum terlindungi vaksin campak.
Dinkes Jabar mendesak orang tua untuk segera mengikuti program pemerintah. Bagi orang dewasa yang merasa belum pernah mendapatkan vaksin, Vini menyarankan untuk melakukan langkah mandiri.
“Kalau dewasa mandiri, lebih baik imunisasi mandiri kalau merasa belum pernah imunisasi,” ujarnya.
Ia menutup dengan peringatan agar penderita penyakit virus seperti campak, cacar air, maupun DBD untuk tidak memaksakan diri beraktivitas karena gejalanya sering kali menipu.
“Jadi orang yang sakit campak, orang yang sakit cacar air, yang sakit DBD, itu jangan merasa sehat, karena virus mah kayak DBD,” pungkas Vini.













