FAKTABANDUNG.ID – Pemerintah kembali menyerahkan dana stimulan perbaikan Rumah Rusak Ringan (RR) dan Sedang (RS), kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi akibat Siklon Senyar, yang terjadi wilayah Aceh dan Sumatra Utara pada November 2025.
Penyerahan itu dilakukan serentak secara _hybrid_ yang dipusatkan di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Pratikno M.Soc.Sc, dan dari Kabupaten Tapanuli Tegah, Provinsi Sumatra Utara, dipimpin oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., pada hari Selasa (21/6).
Dalam agenda penyerahan di Kabupaten Aceh Tamiang, Menko PMK, Pratikno menyampaikan bahwa bantuan dana stimulan dari pemerintah pusat ini adalah atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Hingga saat ini total dana stimulan yang telah disalurkan untuk Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, mencapai Rp654,87 miliar, untuk 18.345 unit rumah rusak ringan dan 12.390 unit rumah rusak sedang.
Di Aceh Tamiang sendiri totalnya adalah sebesar Rp117,96 miliar yang diberikan kepada 4.469 Kepala Keluarga (KK).
Adapun besaran dana stimulan untuk kriteria rumah rusak ringan ialah sebesar 15 juta rupiah per kepala keluarga (KK) dan 30 juta rupiah per KK untuk mereka yang rumahnya rusak sedang.
Ini berlaku untuk semua wilayah yang terdampak, baik di Aceh, Sumatra Utara maupun Sumatra Barat.
Melalui penyerahan dukungan ini, Pratikno berharap agar bantuan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pratikno juga menekankan bahwa bantuan ini bersifat stimulan untuk mendorong pembiayaan agar perbaikan rumah dapat dipercepat. Adapun tujuannya adalah agar hunian masyarakat terdampak segera kembali normal, kehidupan keluarga kembali stabil, dan tentu saja demi pemulihan sosial ekonomi masyarakat.
“Melalui langkah ini, kita berharap Bapak dan Ibu korban bencana dapat kembali hidup normal seperti sedia kala. Atas arahan Bapak Presiden, kita tidak hanya ingin mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga berupaya membangun kehidupan yang jauh lebih baik,” ungkap Pratikno.
Dana Senilai 31,2 M Disalurkan untuk Tapanuli Tengah
Kemudian dari Tapanuli Tengah, penyaluran dana stimulan yang diserahkan oleh Kepala BNPB ini merupakan fase tahap pertama.
Adapun jumlah yang disalurkan mencapai 31,2 miliar rupiah. Seperti di Aceh Tamiang, dana stimulan ini juga diberikan kepada mereka yang terdampak bencana dengan kerugian materiel berupa rumah rusak ringan dan sedang.
“Tapanuli Tengah, ini baru tahap yang pertama. Tadi telah kita salurkan bantuan senilai Rp31,2 miliar rupiah. Dana ini diperuntukkan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan dan sedang,” jelas Suharyanto.
Dari total besaran dana yang disalurkan tersebut, sebanyak 16,7 miliar rupiah akan diberikan kepada 1.098 KK dengan kondisi rumah rusak ringan, dan sebesar 14,7 miliar rupiah untuk 493 KK rusak sedang.
Suharyanto juga menegaskan bahwa penyaluran ini akan terus berlanjut dan tidak berhenti pada tahap pertama saja. Agar penyaluran dana stimulan tahap berikutnya dapat segera direalisasikan, Suharyanto meminta pemerintah daerah untuk segera mempercepat pengiriman data warga terdampak yang belum terakomodasi.
Beliau memastikan bahwa BNPB akan terus melakukan pendampingan melekat di setiap kabupaten dan kota agar proses administrasi tidak menghambat penyaluran bantuan.
“Apakah ini yang pertama dan terakhir? Tentu saja tidak. Masih banyak warga masyarakat Tapanuli Tengah yang rumahnya rusak ringan dan sedang namun belum mendapatkan bantuan hari ini,” kata Suharyanto.
Baca Juga: Progres Capai 1.771 Unit, Penyintas Bencana Aceh Tamiang Targetkan Lebaran di Hunian Layak
“Tapi jangan khawatir, bukan berarti mereka dilupakan, melainkan hanya menunggu giliran saja. Hal ini dikarenakan data yang diberikan dari pemerintah daerah belum seluruhnya masuk ke BNPB,” jelasnya menambahkan.
Penyediaan Huntap untuk Rumah Rusak Berat
Di samping penyaluran dana stimulan perbaikan rumah, Pemerintah saat ini juga tengah mempercepat proses pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal karena rusak berat atau hanyut, termasuk yang tinggal di kawasan zona rawan bencana.
Penyediaan hunian secara permanen ini menjadi langkah nyata yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memberikan kembali tempat tinggal untuk kehidupan yang lebih baik pascabencana.
Di Provinsi Aceh, pembangunan huntap ditargetkan mencapai 18.354 unit.
Sementara itu, di Sumatra Utara sebanyak 6.432 unit, dan di Sumatra Barat sebanyak 4.186 unit saat ini tengah dalam proses pembangunan, sesuai permohonan dari tiap-tiap pemerintah kabupaten/kota yang terdampak.
Berdasarkan aspek kebutuhan, hunian tetap ini setara dengan rumah tipe 36 yang memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur menyatu dengan tempat cuci piring di bagian belakang, dan taman kecil di depan rumah.
Di samping itu, lokasi pembangunan huntap ini dipastikan aman dari potensi bencana banjir dan tanah longsor serta memiliki ketahanan terhadap gempabumi karena dibangun dengan material yang kokoh berkualitas seperti bata merah, pondasi batu kali sebagai penyangga bangunan yang kuat ditambah tulangan besi sebagai pengikat antar dinding.
Lantainya pun menggunakan keramik yang tidak hanya berfungsi sebagai alas, tetapi juga memberikan kebersihan dan kenyamanan bagi calon penghuninya.
Selain fokus pada hunian, BNPB bersama TNI, Polri, dan Kementerian PUPR juga terus bersinergi dalam menangani infrastruktur vital, seperti normalisasi sungai dan perbaikan jembatan guna mengantisipasi ancaman bencana susulan.















