FAKTABANDUNG.ID — Kolaborasi inovasi teknologi antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Paragon Corp membuahkan hasil nyata di wilayah pascabencana Aceh Tamiang.
Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile yang diterjunkan ke lokasi dilaporkan berhasil membantu pemulihan seorang bayi yang menderita diare kronis selama satu bulan akibat krisis air bersih.
Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Nurlaela Arief, mengungkapkan bahwa bayi di Desa Sukajadi tersebut mulai berangsur sembuh setelah keluarganya mengonsumsi air hasil filtrasi sistem IPA Mobile.
Sebelumnya, kondisi kesehatan sang bayi tetap buruk meskipun telah mendapatkan pengobatan medis.
”Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sinergi antara perguruan tinggi dan sektor industri dapat menghadirkan solusi teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Nurlaela dalam keterangannya di Bandung, Minggu (8/3/2026).
Teknologi Penjernih Sungai Tamiang
Alat pemurnian air ini ditempatkan tepat di tepi Sungai Tamiang untuk mengolah air sungai yang keruh menjadi air layak pakai.
Dengan kapasitas maksimum mencapai 7.200 liter per jam, teknologi ini mampu menghasilkan air jernih yang memenuhi standar sanitasi hingga konsumsi minum.
Inovasi ini dikembangkan oleh tim ahli di bawah arahan Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, dengan Bagus Budiwantoro dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB sebagai ketua tim, serta didukung oleh Yayasan LAPI ITB.
Harapan Pemulihan Pascabencana
Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn) Armia Fahmi, menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan teknologi yang menempuh perjalanan darat selama satu pekan dari Bandung tersebut.
Saat ini, sekitar 1.200 warga Kampung Sukajadi bergantung pada pasokan air dari instalasi ini.
”Saya berharap dengan dukungan pemerintah dan banyak pihak, kondisi di sini bisa lebih cepat pulih,” kata Armia, yang juga menyatakan ketertarikannya untuk menjajaki kerja sama lanjutan dengan ITB.
Persiapan Menjelang Ramadan
Memasuki bulan suci Ramadan, keberadaan IPA Mobile menjadi tumpuan utama warga.
Antrean warga yang membawa galon kosong mulai terlihat, terutama menjelang sore hari untuk memenuhi kebutuhan berbuka puasa dan sahur.
Distribusi air dilakukan melalui toren-toren di pemukiman penduduk guna memastikan akses yang merata.
Program kemanusiaan ini merupakan buah kerja sama Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB dengan dukungan penuh dari Paragon Corp.
”Ke depan, diharapkan semakin banyak perusahaan yang dapat berkolaborasi dengan ITB untuk menghadirkan inovasi serupa, mengingat teknologi filter air seperti ini terbukti sangat dibutuhkan,” pungkas Nurlaela.













