FAKTABANDUNG.ID – Sektor industri pengolahan nasional mencatatkan performa signifikan dengan pertumbuhan sebesar 5,30 persen pada tahun 2025.
Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen, sekaligus menjadi momentum pertama dalam 14 tahun terakhir sejak industri kembali tumbuh di atas rata-rata ekonomi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional mencapai 19,07 persen.
Di kancah global, Indonesia kini menempati peringkat ke-13 dunia dan posisi pertama di ASEAN dengan nilai Manufacturing Value Added (MVA) sebesar USD 265,07 miliar.
Strategi Hilirisasi Sektor Furnitur
Salah satu pilar utama yang menopang kinerja ini adalah industri furnitur.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa sektor ini merupakan model hilirisasi kayu yang strategis karena karakteristiknya yang padat karya dan berorientasi ekspor.
“Industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari USD 736,21 miliar,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen menggeser posisi Indonesia dari sekadar produsen menjadi pusat manufaktur global yang mengedepankan desain dan keberlanjutan.
“Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan,” kata Putu pada pembukaan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di Jakarta.
Menjawab Tantangan Global dan Modernisasi
Meski tumbuh positif, sektor furnitur menghadapi tantangan berupa penurunan ekspor sebesar 3 persen dan kenaikan impor 6 persen pada tahun 2025.
Pemerintah merespons kondisi ini dengan program restrukturisasi mesin yang telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan nilai reimburse mencapai Rp26,1 miliar.
Langkah ini terbukti meningkatkan mutu produk sebesar 36,28 persen dan lonjakan produktivitas hingga 32,65 persen.
Selain itu, Indonesia mengandalkan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) untuk menembus hambatan regulasi lingkungan global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Sinergi Bersama Pelaku Industri
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengapresiasi dukungan pemerintah dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan fasilitasi teknologi.
“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi dengan Kementerian Perindustrian, terutama dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan fasilitasi teknologi. Sinergi ini sangat penting agar produk anggota kami tidak hanya kuat di pasar domestik, namun juga mampu bersaing secara adil di kancah internasional sebagai produk yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutur Abdul Sobur.
Ke depan, Kemenperin akan fokus pada lima pilar utama, mulai dari penyediaan SDM terampil hingga insentif fiskal seperti tax holiday, guna memastikan industri furnitur nasional tetap menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global.















