Daerah  

Tolak Dalih “Oknum”, Massa Kalbar Menggugat Tuntut Pertanggungjawaban Aparat di DPRD

Massa Kalbar Mengguggat tuntut reformasi POLRI. (Dok. faktanasional.net)

FAKTABANDUNG.ID – Eskalasi protes dalam rangkaian demonstrasi “Seruan Aksi Kalbar Menggugat” memuncak pada Kamis (26/2/2026).

Setelah melakukan aksi bakar ban dan mengheningkan cipta di halaman kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat, massa aksi akhirnya merangsek masuk dan menduduki Ruang Paripurna untuk menyampaikan mosi tidak percaya secara langsung kepada para wakil rakyat.

Massa yang membawa spanduk bertuliskan kecaman terhadap institusi kepolisian ini menuntut pertanggungjawaban atas kematian Arianto Tawakkal, yang diduga menjadi korban tindakan represif aparat.

Kritik Pedas Terhadap Reformasi Polri

Di dalam ruang sidang, Indah, salah satu orator aksi, menyampaikan orasi tajam yang menyoroti kegagalan reformasi di tubuh Polri.

Baca Juga: Pemprov Kalsel: Ketertiban Umum Bukan Hanya Tugas Aparat, Tapi Tanggung Jawab Bersama

Ia merujuk pada data dari berbagai lembaga HAM seperti Amnesty International dan KontraS yang menunjukkan tingginya angka kasus kekerasan aparat yang tidak terselesaikan.

“Kita tahu negara memiliki reformasi Polri, sampai 2029 reformasi seperti apa yang diinginkan oleh Polri? Kalau terus-terusan terjadi, tidak usah dibahas teman-teman kita yang meninggal di demonstrasi karena kita tahu kasus kekerasan HAM banyak sekali tidak pernah diselesaikan. Lihat di Amnesty, KontraS, berapa banyak kasus yang dilakukan oleh aparat institusi Polri yang tidak diselesaikan,” kritik Indah di hadapan forum.

Menolak Narasi “Oknum”

Indah juga mempertanyakan penggunaan istilah “oknum” yang dinilai massa hanya sebagai perisai untuk melindungi nama baik institusi saat terjadi pelanggaran fatal.

Menurutnya, pola kekerasan yang berulang menunjukkan adanya masalah sistemik dalam pendidikan dan doktrin di kepolisian.

“Sama saja ujung-ujungnya berlindung di balik kata oknum. Logika terbaliknya Pak, kalau memang oknum, kenapa oknum itu selalu ada di tubuh institusi yang sama, Polri? Apakah mereka semua oknum? Mereka berdiri di depan kita semua ini tentu sudah mendapatkan pendidikan yang layak menurut mereka, pendidikan seperti apa yang melahirkan orang-orang yang tidak beradab seperti ini?” tanyanya retoris.

Menuntut Keadilan bagi Arianto Tawakkal

Kekecewaan massa semakin mendalam saat membahas kronologi meninggalnya Arianto Tawakkal.

Indah secara spesifik menyoroti ketidakseimbangan antara pelanggaran yang dituduhkan dengan tindakan mematikan yang dilakukan oleh aparat di lapangan.

“Lagi-lagi meninggal lho anak ini Pak (Tawakkal). Kalau memang katanya dia pembalap liar, apakah hukuman bagi pembalap liar adalah hukumannya mati, kan begitu logikanya Pak. Tidak sengaja begini begitu katanya, itu helm besi yang dipukulkan ya matilah anak orang. Pakailah otaknya untuk berpikir,” pungkasnya dengan nada geram.

Aksi ini ditutup dengan tuntutan tegas agar segera dilakukan investigasi independen dan evaluasi total terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) kepolisian di wilayah Kalimantan Barat guna mencegah terulangnya tragedi serupa.

Baca Juga: Terungkap! Identitas Pelaku Pemukulan Petugas SPBU Cipinang Bukan Oknum Aparat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *