Badan Gizi Nasional Pastikan Siswa MIN 2 Bengkulu Utara Wafat Akibat Pendarahan Otak

/Dok. BGN

FAKTABANDUNG.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) membantah narasi yang mengaitkan kematian Fatih, siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara, dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hasil investigasi medis dan laboratorium menunjukkan penyebab kematian korban adalah cedera otak berat, bukan keracunan pangan.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengungkapkan bahwa berdasarkan kronologi di lapangan, korban bahkan belum sempat mengonsumsi menu MBG saat jatuh pingsan.

“Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit,” kata Nanik dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Temuan Medis: Pendarahan Otak Berat

Data medis dari rangkaian pemeriksaan di beberapa rumah sakit menunjukkan kondisi kesehatan korban yang kritis sejak awal.

Di RS Lagita Ketahun, tingkat kesadaran korban berada pada Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang secara klinis mengindikasikan cedera otak berat yang mengancam jiwa.

Setelah melalui proses rujukan yang sempat terkendala penuhnya fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di beberapa wilayah, korban akhirnya menjalani pemindaian otak (CT Scan) di RS Bhayangkara.

“Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya pendarahan otak pada korban saat dilakukan pemindaian atau CT Scan di RS Bhayangkara,” jelas Nanik.

Fatih sempat menjalani operasi bedah saraf di RS Tiara Sella, namun dinyatakan meninggal dunia sekitar 12 jam pascaoperasi.

Hasil Uji Lab BPOM Negatif

Memperkuat bukti medis, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana pada hari kejadian.

Hasilnya, tidak ditemukan unsur berbahaya maupun bakteri patogen dalam makanan tersebut.

“Hasil uji BPOM menunjukkan seluruh sampel negatif, tidak ada bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, ataupun temuan lain yang mengarah pada keracunan pangan,” tegas Nanik.

Baca Juga: Percepat Layanan Gizi Nasional, Kepala BGN: 24 Ribu SPPG Sudah Beroperasi di Seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *