FAKTABANDUNG.ID – Dialog antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase kritis. Meski Donald Trump menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan, Ketua Parlemen Iran justru memberikan pernyataan kontras.
Menurutnya, meski ada progres, kedua negara masih “sangat jauh” dari kesepakatan damai yang komprehensif, dilansir dari BBC pada 19 April 2026.
Blokade pelabuhan oleh AS menjadi batu sandungan utama yang membuat Iran meradang.
Iran menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz adalah respons atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh AS.
Sejak blokade dimulai, militer Amerika Serikat dilaporkan telah memaksa sedikitnya 23 kapal untuk berputar balik di dekat Selat Hormuz.
Trump sendiri menyatakan bahwa tekanan ekonomi ini tidak akan berhenti sebelum transaksi dengan Iran selesai 100 persen.
Ketegangan di meja perundingan merembet ke laut lepas. Dua kapal motor cepat Iran dilaporkan melepaskan tembakan ke arah kapal tanker di Selat Hormuz.
Selain itu, beberapa kapal lain melaporkan kerusakan akibat hantaman proyektil misterius.
Situasi ini menunjukkan bahwa selama kesepakatan belum tercapai, stabilitas pasokan energi dunia akan terus terancam oleh konflik terbuka di perairan strategis tersebut.















