Program MBG Terancam Imbas Guncangan Stabilitas Ekonomi Global

(Dok. Ist)

FAKTABANDUNG.ID  – Stabilitas domestik Indonesia mengalami guncangan sebagai imbas dari kebijakan luar negeri “transaksional” yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Ketua DPD GMNI Jakarta, Deodatus Sunda, mengatakan bahwa guncangan ekonomi itu memberi tekanan pada eksistensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan janji politik utama pasangan Prabowo-Gibran.

“MBG kini berada di ujung tanduk akibat tekanan geopolitik, krisis energi global, dan tumpukan utang yang mencekik leher APBN,” kata Deodatus dalam catatan kritis yang disampaikan kepada insan pers di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Setidaknya ada empat hal yang menjadi sorotan kuat Deodatus, sehingga kondisi Indonesia dalam ancaman krisis multidimensi.

Pertama, ​Analisis BoP dan Kesepakatan ART: Kedaulatan yang Tergadai

Deodatus mengatakan,  keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada Februari 2026 menjadi titik balik kontroversial bagi kedaulatan nasional.

“Bergabungnya Indonesia dalam inisiatif keamanan pimpinan AS ini memaksa Jakarta untuk tunduk pada agenda geopolitik Washington di Timur Tengah, yang secara tidak langsung melemahkan posisi tawar Indonesia dalam menjaga kedaulatan pangan,” ungkap Deodatus.

​Selain itu, Doedatus yang akrab disapa Bung Dendy menyoroti kesepakatan ART memberlakukan tarif resiprokal sebesar 19 persen untuk produk tertentu.

Padahal, jelas Dendy, Klausul teknisnya menuntut amandemen puluhan UU demi menyesuaikan standar pasar AS.

“Tekanan fiskal dari perjanjian asimetris ini membuat anggaran untuk program populis seperti MBG terancam dialihkan demi memenuhi kewajiban perdagangan yang berat sebelah,” tegas Dendy.

​Kedua, Dampak Perang AS-Israel vs Iran: Matinya Jalur Energi

​Bung Dendy menyebut situasi kian kritis dengan pecahnya perang terbuka antara blok AS-Israel melawan Iran, yang berdampak fatal pada jalur perdagangan energi dunia.

Sebagai jalur utama pengiriman minyak, blokade Selat Hormuz menyebabkan jalur perdagangan energi mati total. Indonesia, sebagai net importer minyak, kehilangan akses terhadap suplai energi murah.

“Akibat risiko perang di jalur laut, kapal tanker tidak berani melintas sehingga Indonesia lumpuh; pemerintah gagal mengekspor komoditas unggulan dan gagal mengimpor bahan baku industri serta pangan pokok secara stabil,” urainya.

Ketiga, Krisis Ekonomi: Dolar Meroket dan IHSG Rontok

Bung Dendy menganalisis bahwa ketegangan global menghantam langsung jantung ekonomi rakyat. Ketidakpastian global membuat investor lari ke aset aman (safe haven), menyebabkan Rupiah melemah tajam, dan meningkatkan beban utang luar negeri serta biaya impor secara eksponensial.

​Di sektor finansial, Dendy mengatakan bahwa IHSG rontok akibat panic selling massal, sementara sektor manufaktur dan konsumsi hancur karena kenaikan biaya produksi yang tak terkendali.

“Dengan terganggunya logistik global, harga pangan dalam negeri meroket akibat inflasi energi, memaksa pemerintah melakukan efisiensi ekstrem pada berbagai program sosial,” ungkap Bung Dendy.

​Keempat, Bom Waktu Utang Rp833 Triliun di Tahun 2026

​Krisis fiskal Indonesia diperparah oleh tumpukan utang yang harus dibayar tepat saat badai ekonomi menghantam.

Menurut Bung Dendy, 2026 menjadi periode paling kritis dalam sejarah, karena pemerintah menghadapi jadwal pembayaran utang jatuh tempo yang melonjak drastis hingga Rp833 triliun.

​Kondisi ini diperburuk oleh pelemahan Rupiah ke level yang mengkhawatirkan (di atas Rp16.800 per Dolar AS), sehingga nilai pembayaran cicilan utang luar negeri membengkak seketika.

“Demi menjaga kepercayaan investor asing dan menghindari risiko gagal bayar (default), pemerintah terpaksa memprioritaskan pembayaran bunga dan pokok utang di atas program kesejahteraan rakyat,” tegas Dendy.

​Kesimpulan: Mengapa MBG Dikorbankan?

Bung Dendy menjelaskan bahwa pembatalan atau pengurangan drastis anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah konsekuensi logis dari posisi Indonesia yang terjepit.

Ia menilai di bawah bayang-bayang kebijakan Trump, Indonesia terikat pada perjanjian dagang ART yang berat sebelah dan beban utang yang menguras napas APBN.

Ia menilai ​sikap “diam” Presiden Prabowo dan Gibran mencerminkan realitas pahit: kedaulatan nasional sedang bertekuk lutut di bawah kendali utang internasional dan ketergantungan energi.

“MBG bukan sekadar janji yang diingkari, melainkan simbol bahwa rakyat dipaksa mengalah demi menjaga stabilitas angka-angka di buku utang negara,” tuntas Bung Dendy.[Sah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *