Menolak Punah di Era Digital: Kisah Generasi Kedua Sentra Stempel Cikapundung Bertahan dari Gempuran ‘Marketplace’

/Dok. Detikjabar

FAKTABANDUNG.ID – Di sudut Jalan ABC, tepatnya di kawasan Cikapundung, Kota Bandung, deretan lapak gerobak masih berdiri kokoh di sepanjang trotoar.

Suara mesin ukir dan laser yang dulu menderu intens, kini terdengar lebih pelan.

Sentra Stempel Cikapundung, yang puluhan tahun menjadi rujukan utama pembuatan stempel di Jawa Barat, kini tengah berada di persimpangan jalan menuju masa transisi.

Bagi Rijka (33), lapak kecil ini bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan warisan keluarga.

Ia telah menekuni profesi ini selama lebih dari sepuluh tahun, meneruskan jejak sang ayah yang sudah merintis usaha di lokasi tersebut jauh sebelum gedung-gedung komersial mengepung kawasan itu.

“Saya mah nerusin yang si Bapak sih. Bapak mah sudah puluhan tahun, 20 tahun lebih mungkin,” ujar Rijka saat ditemui belum lama ini.

Saksi Bisu Transformasi Cikapundung

Berdasarkan memori para perajin, denyut nadi pusat stempel ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1979.

Dahulu, sebelum menjelma menjadi kawasan bisnis yang padat, Cikapundung merupakan pemukiman warga.

“Dulu mah sebelum ada gedung, ini permukiman, teh. Bapak di sini, terus dipindahin ke lokasi ini,” kenang Rijka merujuk pada pergeseran lokasi lapaknya.

Sentra ini sempat menikmati masa kejayaan pada era 2010-an.

Namun, badai digitalisasi melalui kehadiran marketplace dan toko daring memberikan hantaman cukup telak bagi ekosistem usaha luring (offline) seperti miliknya.

Tergerus Harga ‘Online’

Rijka mengakui adanya penurunan omzet yang cukup signifikan. Perbandingan harga yang timpang antara lapak fisik dan platform digital menjadi faktor utama beralihnya pelanggan.

“Turun atuh omzetnya. Hampirlah 40-30 persenan. Dulu mah sering stempel tiap hari dapat 10, 5, sekarang mah susah, 1-2 juga,” keluh Rijka.

Menurutnya, perbedaan harga di toko daring bisa mencapai separuh dari harga jasa di tempat.

“Kalau di sini harganya 100, di online 50 gitu. Setengahnya, hampir setengahnya,” jelasnya.

Kepercayaan Instansi Jadi Penyelamat

Meski dihimpit persaingan harga di dunia maya, Sentra Cikapundung menolak menyerah.

Kekuatan utama mereka saat ini terletak pada loyalitas pelanggan dari instansi-instansi besar yang sudah menjalin kerja sama bertahun-tahun.

Nama-nama besar seperti Itenas, UPI, hingga Tahura masih rutin memesan produk selain stempel, seperti plakat akrilik dan huruf timbul.

“Langganan mah ada aja, teh. Perusahaan tuh nggak mau nyari yang lain, udah masuk nama kita, tokonya gitu. Itenas, Tahura, UPI itu langganan juga. UPI mah bikin plakat, kalau Itenas banyakan huruf,” tambahnya.

Mulai Merambah TikTok dan Instagram

Sadar bahwa zaman telah berubah, Rijka kini mulai melirik platform digital untuk menjaga relevansi usahanya.

Melalui akun @rr_reklame di Instagram dan TikTok, ia mencoba menjangkau pasar yang lebih luas agar warisan ayahnya tidak tenggelam ditelan waktu.

Meski penuh tantangan, harapan besar masih disampirkan Rijka pada gerobak tuanya di pinggiran Jalan ABC.

“Harapannya pengen kayak dulu lagi sih Teh, rame lagi. Tapi kan susah sekarang mah zamannya emang harus online sih,” tutup Rijka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *