Daerah  

Bandung Siaga Kesehatan Mental: Patroli Flyover Pasupati Ditingkatkan

/Dok. CNN Indonesia

FAKTABANDUNG.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengambil langkah cepat untuk menekan angka kasus percobaan bunuh diri yang kian meningkat di wilayahnya.

Kawasan Jalan Layang Prof. Mochtar Kusumaatmadja atau Flyover Pasupati kini menjadi fokus pengawasan intensif menyusul serangkaian insiden nekat di lokasi ikonik tersebut.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk memperketat patroli di sepanjang flyover sejak sepekan terakhir sebagai langkah preventif.

“Sejak minggu lalu kami sudah meningkatkan patroli di kawasan itu. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa tingkat kasus bunuh diri di Kota Bandung sudah berada pada kondisi yang cukup mengkhawatirkan,” ujar Farhan di Bandung, Kamis (5/3/2026).

Pengawasan Merambah Lingkungan Pendidikan

Selain infrastruktur publik, Farhan juga memberikan perhatian khusus pada gedung-gedung bertingkat di lingkungan pendidikan. Ia meminta pihak sekolah hingga perguruan tinggi untuk memperketat pengamanan guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

“Pengawasannya kami perketat. Beberapa sekolah dan kampus juga kami minta ikut menjaga keamanan gedung-gedung tinggi. Pernah ada kasus seorang mahasiswi yang menjatuhkan diri dari gedung bertingkat,” katanya.

Farhan menyadari bahwa pengawasan fisik saja tidak cukup. Ia mendorong sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, hingga keluarga untuk lebih peka terhadap isu kesehatan mental di lingkungan masing-masing.

Analisis Psikologi: Tekanan Kompleks di Perkotaan

Fenomena meningkatnya kasus bunuh diri di perkotaan dinilai bukan tanpa sebab. Pengamat psikologi, Billy Martasandy, menjelaskan bahwa tekanan sosial, ekonomi, hingga beban akademik sering kali menjadi pemicu akumulasi stres pada usia produktif.

“Kasus bunuh diri biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses panjang berupa akumulasi stres, rasa putus asa, hingga perasaan tidak dihargai atau tidak memiliki harapan,” jelas Billy.

Menurut Billy, dukungan sosial dari orang terdekat menjadi benteng pertahanan utama bagi individu yang sedang mengalami distress psikologis. Ia menekankan agar keluarga maupun teman lebih peka terhadap perubahan perilaku orang di sekitar mereka.

“Lingkungan terdekat seperti keluarga, teman, dan guru harus lebih sensitif terhadap tanda-tanda distress psikologis. Dukungan sosial sering kali menjadi faktor penting yang bisa mencegah seseorang mengambil keputusan ekstrem,” katanya.

Billy mengapresiasi langkah patroli fisik yang dilakukan Pemkot, namun ia mengingatkan bahwa solusi jangka panjang terletak pada sistem pendukung kesehatan mental yang mumpuni.

“Patroli memang penting untuk pencegahan cepat. Namun dalam jangka panjang, yang paling krusial adalah membangun sistem kesehatan mental yang kuat dan mudah diakses masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *