FAKTABANDUNG.ID – Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN) menilai bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan hanya sekadar program pemenuhan kebutuhan kalori masyarakat. Lebih dari itu, program ini dianggap sebagai langkah besar dalam memperkuat kedaulatan ekonomi rakyat dari tingkat desa.
Sekretaris Jenderal DPP ARUN, Bungas T Fernando Duling, menyampaikan bahwa di tengah percepatan pembangunan nasional, pola kemandirian yang dijalankan yayasan serta investor lokal melalui SPPG justru menjadi ujung tombak dalam membangun ketahanan gizi sekaligus mendorong efek ekonomi berantai di masyarakat.
Keberanian para investor mandiri yang menanamkan modal di program ini layak disebut sebagai “revolusi nutrisi”. Dengan nilai investasi yang berkisar Rp1,3 miliar hingga Rp2 miliar, para mitra telah berkontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi desa tanpa harus menunggu anggaran negara atau APBN untuk pembangunan awal,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).
Fernando menambahkan, investasi ideal berada di kisaran Rp1,3 miliar hingga Rp1,4 miliar agar kualitas layanan tetap terjaga dan usaha bisa berkelanjutan. Ia juga mengingatkan agar efisiensi tidak dilakukan secara berlebihan di bawah Rp1 miliar karena berpotensi menurunkan kualitas layanan serta mengganggu keberlangsungan kontrak.
“ARUN akan terus berada di sisi para mitra untuk memastikan berbagai kendala birokrasi dan hambatan teknis tidak melemahkan semangat mereka. Dalam pandangan ARUN, investasi ini menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat kecil,” tegas Fernando.
Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa sebelum makanan sampai ke meja siswa, pembangunan fasilitas SPPG sudah lebih dulu menciptakan dampak ekonomi. Ribuan pekerja seperti arsitek, teknisi, tukang bangunan, hingga jasa angkut lokal terlibat dalam proses pembangunan selama sekitar 60 hari kerja.
Dampaknya langsung terasa pada daya beli masyarakat desa. Warung kecil, pedagang kaki lima, dan pelaku usaha lokal ikut merasakan perputaran ekonomi dari aktivitas pembangunan tersebut.
“Hal ini menjadi bukti nyata bahwa ekonomi kerakyatan dapat bergerak bahkan sebelum anggaran negara benar-benar dikeluarkan,” ujarnya.
Memasuki tahap operasional, tantangan berikutnya adalah menjaga agar ekosistem ekonomi lokal tetap hidup. Karena itu, ARUN mendorong yayasan untuk bekerja sama dengan petani, peternak, dan pelaku UMKM sebagai pemasok utama bahan baku.
Dengan begitu, SPPG tidak hanya menjalankan program gizi, tetapi juga menjadi pembeli tetap bagi produk lokal. Hal ini diharapkan dapat memotong rantai distribusi yang panjang dan memastikan keuntungan tetap berada di tangan produsen kecil.
Ia juga menjelaskan bahwa insentif operasional harian yang mencapai Rp6 juta tidak bisa langsung dianggap sebagai keuntungan bersih. Angka tersebut masih menjadi arus kas yang harus digunakan untuk biaya operasional, dan baru akan berubah menjadi profit setelah melewati titik impas (Break Even Point/BEP) yang dihitung secara ketat selama masa kontrak 24 bulan.
“Namun, penting untuk meletakkan perspektif kita secara jernih, bahwa insentif harian sebesar Rp6 juta bukanlah sekadar angka keuntungan bagi mereka. Ia adalah amanah arus kas operasional yang baru bertransformasi menjadi profit setelah melewati ambang batas titik impas atau Break Even Point (BEP) yang terukur secara ketat dalam periode kontrak 24 bulan,” ungkap Fernando.
Fernando menegaskan, ARUN hadir tidak hanya sebagai pendukung moral, tetapi juga memberikan pendampingan strategis kepada para mitra. Ia menyebut, menjadi investor SPPG bukan sekadar persoalan perhitungan bisnis, melainkan juga membutuhkan ketahanan dalam mengelola operasional hingga mencapai titik impas yang diperkirakan terjadi pada bulan ke-14 hingga ke-20.
Menurutnya, SPPG Mandiri merupakan bentuk kemitraan yang sehat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Keuntungan yang stabil di akhir masa kontrak dinilai sebagai imbal hasil yang wajar atas risiko besar yang ditanggung investor di awal.
ARUN pun berkomitmen untuk terus mengawal program ini agar setiap investasi yang masuk benar-benar menjadi penggerak kebangkitan ekonomi rakyat. Program ini diharapkan mampu memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang layak sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.[Mut]















