Wamen ESDM: Kenaikan Harga Timah Global Berdampak Positif pada Penerimaan Negara

timah atau tin ingot di Gudang PT Timah (Persero) Tbk. (Dok. Ist)

Faktabandung.id, NASIONAL – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, merespons tren kenaikan harga komoditas tambang di pasar internasional. Ia memastikan bahwa lonjakan harga timah global saat ini membawa dampak signifikan terhadap kas negara, mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama.

Menurut Yuliot, momentum kenaikan harga ini menjadi keuntungan tersendiri bagi struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dari sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Dengan meningkatnya harga timah global, dari sisi penerimaan negara memberikan dampak positif peningkatan pendapatan,” ujar Yuliot ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa.

Jaga Keseimbangan Pasokan

Meski tren harga sedang positif, Yuliot menjelaskan bahwa fokus Kementerian ESDM saat ini adalah menjaga stabilitas pasar. Pemerintah berupaya keras menjaga keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) agar harga komoditas ini tidak mengalami penurunan drastis di kemudian hari.

Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah memperketat pengawasan di lapangan. Kementerian ESDM berkomitmen memberantas praktik pertambangan ilegal dan menutup celah penyelundupan timah yang selama ini merugikan negara.

“Harapannya, setiap target yang ditetapkan dapat tercapai,” kata Yuliot.

Efek Penertiban Tambang Ilegal

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, juga memberikan analisis terkait fenomena ini. Ia menilai lonjakan harga timah global yang bergerak dari kisaran 33 ribu dolar AS menuju 50 ribu dolar AS dipengaruhi oleh kebijakan dalam negeri Indonesia.

Kenaikan tersebut disinyalir sebagai dampak langsung dari penertiban tambang ilegal yang gencar dilakukan. Langkah tegas ini berhasil mengurangi volume penyelundupan timah ke pasar internasional secara signifikan. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk memengaruhi sentimen harga komoditas di tingkat dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *