Transformasi Pendidikan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Etika dalam Penguasaan Kecerdasan Buatan

Mendikdasmen Abdul Mu'ti. (Dok. Ist)

Faktabandung.id, NASIONAL – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa transformasi pendidikan di Indonesia tidak bisa lepas dari kemajuan teknologi. Ia menekankan perlunya keseimbangan antara penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan keadaban digital (digital civility).

Dalam keterangannya di Jakarta pada Minggu, Mu’ti menjelaskan bahwa teknologi AI kini telah masuk ke hampir seluruh sendi kehidupan, mulai dari dunia kerja, riset, hingga cara manusia mengolah pengetahuan. Namun, kompetensi teknis saja dinilai tidak cukup tanpa landasan etika yang kuat.

“Kecerdasan artifisial (AI) kini telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Namun, penting kita perlu memiliki digital competence, tetapi itu harus diiringi dengan digital civility atau keadaban digital. Tanpa etika, pemanfaatan AI justru bisa menjadi sumber persoalan sosial baru,” ujar Mendikdasmen Mu’ti.

Peluang dan Tantangan di Dunia Kerja

Mu’ti menyoroti berbagai kajian global yang menyebutkan potensi AI dalam menggantikan sejumlah pekerjaan manusia. Meski demikian, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi mereka yang adaptif. Pendidikan memegang peran kunci agar generasi muda Indonesia tidak tergilas oleh perubahan zaman.

“Yang terdampak adalah mereka yang tidak menguasai teknologi. Tetapi mereka yang menguasai AI justru akan menjadi semakin berdaya. Karena itu, pendidikan memiliki peran strategis untuk memastikan generasi muda tidak tertinggal,” jelasnya.

Bahaya Manipulasi Digital

Lebih lanjut, Mu’ti mengingatkan tentang cara kerja AI yang bergantung pada himpunan data input. Tantangan utamanya adalah validitas dan kebenaran informasi. Jika data yang dimasukkan tidak akurat atau tidak etis, maka hasil olahan AI pun akan menyesatkan.

Hal ini kian krusial di tengah maraknya manipulasi digital, seperti pemalsuan suara, gambar, dan narasi yang dapat merusak reputasi. Di era scroll society, di mana masyarakat cenderung membaca cepat, konten manipulatif sangat mudah tersebar.

“AI bisa sangat cerdas, tetapi ia tidak memiliki hati dan kesadaran moral. Maka tanggung jawab manusialah untuk memastikan bahwa apa yang diunggah, diproduksi, dan disebarkan melalui AI adalah sesuatu yang benar dan baik,” tegas Mu’ti.

Integrasi Coding di Sekolah Dasar

Sebagai langkah konkret menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai merancang integrasi penguasaan kecerdasan buatan dan coding ke dalam kurikulum. Materi ini direncanakan menjadi mata pelajaran pilihan yang dimulai dari siswa kelas V Sekolah Dasar (SD).

Kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur sekolah dan kompetensi guru. Mu’ti menambahkan, meski teknologi diajarkan, pendidikan karakter dan nilai moral tetap menjadi fondasi utama yang terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *